Berbicara tentang identitas menurut saya sama seperti sebuah pengakuan. Karena dengan seseorang memilki identitas maka ia juga akan mendapatkan suatu pengakuan dari orang lain. Identitas seseorang bisa berbeda jika dipandang dibagian berbeda pula. Seseorang bisa berada didalam golongan mayoritas ataupun bisa juga menjadi golongan minoritas. Semua tergantung dimana ia berada dan bersosialisasi.
Identitas seseorang bukan hanya dilihat dari suku asal orang tua. Menjadi seorang anak, siswa, mahasiswa, warga itu juga merupakan suatu identitas yang sangat penting. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, saya beridentitas Jawa. Karena kedua orang tua saya berasal dari Jawa, tetapi semenjak lahir, saya besar di Jakarta. Jadi bisa saja identitas saya menjadi warga Jakarta. Walau secara darah saya keturunan jawa, tetapi secara fakta saya hidup dan besar di Jakarta, maka dari itu tidak ada sedikitpun sikap dari saya yang mencerminkan orang Jawa.
Karena itulah semenjak sekolah tak pernah ada yang percaya kalau saya mengaku keturunan Jawa, mereka lebih percaya jika saya mengaku suku Betawi ataupun Batak. Tak bisa disalahkan juga mereka yang menganggap identitas saya seperti itu, karena saya juga menyadari kalau sikap saya tidak mencerminkan oarang Jawa yang katanya lemah lembut dan sangat wanita sekali. Tetapi terkadang saya merasa seperti orang yang didiskriminasi karena sebagai orang Jawa saya sama sekali tidak lemah lembut dan wanita sekali. Apakah semua orang Jawa harus lemah lembut? Apakah karena saya tipical orang yang ramai dan bawel maka dari itu saya dianggap orang Betawi atau Batak? Padahal kan jaman semakin maju dan cara bersosialisasi pun semakin berbeda. Dulu memang harus rasanya menunduk samapi jalan jongkok saat berjalan didepan nenek kita ataupun orang yang lebih tua dari kita, tetapi sekarang cukup dengan senyum,salam dan sedikit menunduk sudah cukup. Itu adalah bukti kalau budaya kita memang sudah berkembang. Jadi seharusnya jangan mengkotak-kotakkan seseorang hanya karena sudut pandang semata tanpa mengenal benar identitas mereka.
Sebagai makhluk sosial, tentu saja kita akan bersosialisasi dengan banyak orang dengan identitas yang berbeda pula dengan kita. Begitu pula dengan saya, dengan identitas saya yang sekarang adalah warga Jakarta,saya tentunya menjadi golongan mayoritas di kampus ataupun di lingkungan rumah saya. Bicara soal kampus, banyak sekali yang mengatakan kalau anak-anak Jakarta adalah anak-anak yang Gaul dan tahu semua tempat nongkrong yang keren-keren. Itulah yang sering saya dengar saatt pertama kali berkkenalan dan saya menyebutkan asal saya dari Jakarta. Padahal tidak semua anak Jakarta seperti yang selama ini mereka fikirkan, karena saya sama sekali tidak termasuk seperti annak-annak yangg disebutkan tadi. Saya memang anak Jakarta, tetapi saya anak rummahan yang tidak sombong dan mau berteman dengan siapa saja. Buat saya semakin mempunyai teman yang berbeda identitas dengan kita, saya jadi bisa lebih banyak belajar dan lebih memahami sikap dan sifat mereka agar saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Selain itu, semakin berkurang juga stereotype buruk yang ada dipikiran saya, setelah mengenal baik mereka. Intinya hargai perbedaan identitas setiap orang dan terus berpikir positif.