Selasa, 01 November 2011

Identitasku bermacam-macam



Berbicara tentang identitas menurut saya sama seperti sebuah pengakuan. Karena dengan seseorang memilki identitas maka ia juga akan mendapatkan suatu pengakuan dari orang lain. Identitas seseorang bisa berbeda jika dipandang dibagian berbeda pula. Seseorang bisa berada didalam golongan mayoritas ataupun bisa juga menjadi golongan minoritas. Semua tergantung dimana ia berada dan bersosialisasi.
Identitas seseorang bukan hanya dilihat dari suku asal orang tua. Menjadi seorang anak, siswa, mahasiswa, warga itu juga merupakan suatu identitas yang sangat penting.  Kalau dilihat dari silsilah keturunan, saya beridentitas Jawa. Karena kedua orang tua saya berasal dari Jawa, tetapi semenjak lahir, saya besar di Jakarta. Jadi bisa saja identitas saya menjadi warga Jakarta. Walau secara darah saya keturunan jawa, tetapi secara fakta saya hidup dan besar di Jakarta, maka dari itu tidak ada sedikitpun sikap dari saya yang mencerminkan orang Jawa.
Karena itulah semenjak sekolah tak pernah ada yang percaya kalau saya mengaku keturunan Jawa, mereka lebih percaya jika saya mengaku suku Betawi ataupun Batak. Tak bisa disalahkan juga mereka yang menganggap identitas saya seperti itu, karena saya juga menyadari kalau sikap saya tidak mencerminkan oarang Jawa yang katanya lemah lembut dan sangat wanita sekali. Tetapi terkadang saya merasa seperti orang yang didiskriminasi karena sebagai orang Jawa saya sama sekali tidak lemah lembut dan wanita sekali. Apakah semua orang Jawa harus lemah lembut? Apakah karena saya tipical orang yang ramai dan bawel maka dari itu saya dianggap orang Betawi atau Batak? Padahal kan jaman semakin maju dan cara bersosialisasi pun semakin berbeda. Dulu memang harus rasanya menunduk samapi jalan jongkok saat berjalan didepan nenek kita ataupun orang yang lebih tua dari kita, tetapi sekarang cukup dengan senyum,salam dan sedikit menunduk sudah cukup. Itu adalah bukti kalau budaya kita memang sudah berkembang. Jadi seharusnya jangan mengkotak-kotakkan seseorang hanya karena sudut pandang semata tanpa mengenal benar identitas mereka.
Sebagai makhluk sosial, tentu saja kita akan bersosialisasi dengan banyak orang dengan identitas yang berbeda pula dengan kita. Begitu pula dengan saya, dengan identitas saya yang sekarang adalah warga Jakarta,saya tentunya menjadi golongan mayoritas di kampus ataupun di lingkungan rumah saya. Bicara soal kampus, banyak sekali yang mengatakan kalau anak-anak Jakarta adalah anak-anak yang Gaul dan tahu semua tempat nongkrong yang keren-keren. Itulah yang sering saya dengar saatt pertama kali berkkenalan dan saya menyebutkan asal saya dari Jakarta. Padahal tidak semua anak Jakarta seperti yang selama ini mereka fikirkan, karena saya sama sekali tidak termasuk seperti annak-annak yangg disebutkan tadi. Saya memang anak Jakarta, tetapi saya anak rummahan yang tidak sombong dan  mau berteman dengan siapa saja. Buat saya semakin mempunyai teman yang berbeda identitas dengan kita, saya jadi bisa lebih banyak belajar dan lebih memahami sikap dan sifat mereka agar saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Selain itu, semakin berkurang juga stereotype buruk yang ada dipikiran saya, setelah mengenal baik mereka. Intinya hargai perbedaan identitas setiap orang dan terus berpikir positif.


Selasa, 04 Oktober 2011

The Meaning of My Name


14 Februari 1992, tepatnya jam 19.00 wib ibu saya melahirkan saya kedunia ini. Segera ayah saya memikirkan nama untuk saya. Lalu terciptalah nama Wiyarsih. Sewaktu kecil sampai kelas 4 SD saya masih merasa nyaman dengan nama saya, karena belum begitu memperhatikan tentang nama saya. Tetapi saat saya kelas 5, saya mulai menyadari kalau nama saya tuh singkat banget. Yah! Cuma 1 kata, padahal kebanyakan teman saya namanya sangat panjang kayak kereta api. Saya sempat berfikir dan merasa kesal dengan orang tua saya yang nggak kreatif dalam membuat nama, yah tapi saat itu saya nggak berani protes.
Pertama masuk di SMP, rasanya saat itu saya merasa malu saat mengenalkan diri di depan kelas karena nama saya yang biasa saja. Akhirnya saya memberanikan diri protes kepada orang tua saya mengenai nama saya. Karena lagi-lagi teman-teman saya namanya lebih panjang daripada saya. Sepulang sekolah saya langsung tanya pada ayah saya, tentang kenapa sih ngasih namanya singkat banget, saya bilang kepada ayah saya kalau beliau nggak kreatif banget buat namanya, lalu saya juga menanyakan tentang arti nama saya ini. Karena jujur saja, waktu itu saya ragu kalau nama saya itu ada artinya. Dengan senyumnya ayah saya berkata, memangnya mau nama seperti apa? Lalu saya jawab yah yang panjang dikit lah. Ayah saya melanjutkan, kamu tahu nggak kalau namamu itu walaupun singkat tapi penuh arti. WIYARSIH ( WI : wibawa, YAR: sayang orang tua, SIH: welas asih, dan kalau WIYAR itu berarti luas) maksud hati ayah saya hatinya luas, tapi ternyata berpengaruh juga ke tubuh saya.
Semenjak tahu arti nama, saya mulai bangga dengan nama saya, yah walaupun nama saya super singkat tetapi ternyata penuh makna. Dan kalau dulu saya sempat ingin merubah nama, sekarang jika ada yang bertanya tentang hal tersebut dengan tegas saya menjawab TIDAK. Karena saya bangga dengan nama pemberian ayah saya, saya percaya kalau ayah saya memberikan nama yang terbaik untuk saya dan penuh doa didalamnya.
                Nama saya diambil dari bahasa jawa, karena kedua orang tua saya memang tulen turunan jawa. Tapi anehnya wajah saya nggak ada tampang jawanya. Sudah sekitar 30 orang yang menebak saya turunan sumatra (BATAK). Yang buat saya kesal sih waktu saya dan ibu saya sedang di sebuah bank, seorang satpam tiba-tiba mengajak ngobrol dan bertanya ke ibu saya tentang asal dari ibu saya. Ibu menjawab asalnya dari Jawa, tapi dengan tampang yang ngeselin satpam itu bilang “ masa sih bu dari Jawa, tapi kok anaknya kayak orang Batak yah? Ya ampun, rasanya pengen banget marah-marah, nggak sekalian ajah bilang tuh satpam tanya saya anak kandung apa bukan? Dan karena kayak orang Batak, nggak jarang juga yang menebak saya beraga kristen, sampai guru saya sering memberikan soal ujian agama kristen. Maka dari itu setelah kuliah saya memutuskan untuk menggunakan jilbab, selain kewajiban, tujuan lainnya adalah agar tidak ada lagi yang menyangka kristen lagi. 


Senin, 03 Oktober 2011

Second Reflection

In second meeting, my lecturer asks my friends and me for play games. The game is remembered what our friends ate in breakfast. The function from this game is remembering Maslow theory.  After that, I watched video about learning and teaching process in the school. I learned about effective and non effective activity from the video. Then, I discuss with my group about our opinion from the video. What activities are not effective?
In video, the teachers teach her student not only in the class but also went outside the class for observation. For me, it’s a good activity but sometimes will be wasting time and non effective because there is no clear assessment for this activity. The teacher only asked her students about colour, shape and number of the fruit. But I like the teacher style when she teach about family, number and colour. Because she teaches her students with games and good opened question, so without conscious students have learned a lot from these questions. After discuss, we continue to make a good lesson plan for primary school and do micro teaching in next week. I hope my group can do the best for this activity.

Selasa, 27 September 2011

First Reflection

In the first meeting, i review about my future or my dream want to be a teacher. I shared to my friends about who give me inspire to be a teacher, what my planning as a teacher candidate and then what is my purpose study PETA.
When my lecturer explained about our modul and what topic will we discuss, iam very interested because the material is fun and teach me to be a great teacher.  I hope after i study abaout PETA i can make an efective class, assesment, and efective in teaching.
Besides, i also learn about types of teacher such that an efective teacher and non-efective teacher. Every group wrote the types of teacher and shared to another group. Its very fun and i enjoy it. From this activity i learn to be an efective teacher and great teacher.
:)

Humanistic 1 ( First Essay )


Humanistic studies, pertamakali mendengar mata kuliah ini, saya merasa bingung. Mata kuliah tentang apa dan nantinya akan mempelajari apa. Lalu saya bertanya pada senior, dan ternyata mata kuliah ini semacam Pkn. Setelah tahu seperti Pkn yang saat itu saya fikirkan adalah mata kuliah yang membosankan dengan banyak hafalan undang-undang, bahasa yang sulit dipahami belajar tentang kepemerintahan.
Semua pemikiran itu berubah saat saya telah mengikuti kuliah pertama saya, ternyata kuliah humanistic tidak belajar seperti di SMA yang banyak menghafal. Melainkan berdiskusi tentang keanekaragaman budaya, agama dan cara bersosialisasi anatar sesama. Di mata kuliah ini saya belajar kalau perbedaan itu sangat indah. Kita dapat saling belajar dari perbedaan tersebut. Tanpa ada yang harus tersakiti dan merasa dirugikan.
Mengenai harapan, tentu saya setiap mahasiswa mwngharapkan mendapat nilai yang baik dalam setiap mata kuliahnya. Bukan hanya nilai, tetapi saya juga ingin mendapatkan pengetahuan yang mendalam dalam mata kuliah Humanistic ini. Dengan belajr mmata kuliah ini saya berharap saya semakin bisa menerima perbedaan apapun itu dari agama, budaya dan sifat dari orang-orang disekitar saya. Selain itu agar saya tidak mudah terprovokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Sebenarnya sejak kecil saya sudah terbiasa dengan adanya perbedaan, karena selama bersekolah saya suda banyak bertemu dengan bermacam-macam suku dan agama. Terlebih lagi di dalam keluarga besar saya juga banyak yang berbeda agama, tetapi kami saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Contohnya, saat lebaran keluarga yang bergama non islam akan mengunjungi rumah yang beragama islam, begitu juga sebaliknya. Setelah belajar Humanistic saya pun berharap perasaan saya semakin kuat dalam menerima indahnya perbedaan.